Langsung ke konten utama
                   Gadis Yang Malang                                                 

Di pagi hari yang cerah, ada seorang gadis  yang sedang berjalan menuju sekolahnya sambil menundukkan kepalanya. Namanya adalah Alona Damora Patterson, biasanya dipanggil Lona. Gadis yang memiliki mata yang indah, wajah yang cantik, dan kulit putih pucat. Lona merupakan gadis keturunan Jerman, karena ibu Lona berasal dari Jerman.

Lona adalah gadis pendiam, dia bukan siswa yang terkenal di sekolahnya. Lona merupakan gadis yang sangat tertutup, dia tidak pandai bergaul dengan siswa yang lainnya walaupun hanya sekedar menyapa saja.

Bahkan dia hanya memiliki satu orang teman yang bernama Cathalea Freyaca Harrison. Sama seperti Lona, Freya juga merupakan gadis keturunan Jerman.

Lona tidak memiliki teman lagi selain Freya, karena hampir semua orang membencinya. Mungkin karena ayah Lona seorang koruptor.

Awalnya, kehidupan Lona biasa biasa saja. Bahkan, semua orang mau berteman dengannya. Tetapi setelah mendengar berita tentang ayah Lona, mereka semua menjauhi Lona dan membencinya.

Sekarang, kehidupan Lona yang dulu berbanding terbalik dengan kehidupan Lona yang sekarang. Ayah Lona lah penyebabnya.

Ketika Lona memasuki gerbang sekolah, dia disambut dengan bisikkan dan ejekkan dari teman-temannya. Terutama Arthur, Leon, dan Hesan. Ketiga pria itu yang selalu mengganggu Lona semenjak berita tentang ayah Lona tersebar.

"Hey teman-teman, ada anak seorang koruptor nih!" teriak Arthur bertepatan dengan Lona yang lewat tepat didepan dirinya. Membuat semua siswa yang ada disekitar itu menoleh kepada Arthur dan Lona.

"Kalau aku sih malu jadi anak seorang koruptor!" timpal Leon.

Lona yang mendengar teriakkan Arthur dan Leon yang tepat di telinganya pun hanya menundukkan kepala dan menahan tangisnya karena malu dan sakit hati dikata-katakan seperti itu.

Lona bergegas pergi ke kelasnya tanpa membalas perkataan Arthur dan Leon sedikit pun. Disepanjang jalan menuju ke kelas, semua orang berbisik membicarakan Lona. Bahkan, ketika Lona masuk ke kelasnya, teman-temannya mengejek dan menghina Lona terus-menerus.

Bel pun berbunyi menandakan bahwa pelajaran akan segera dimulai. Selama pelajaran berlangsung, Lona merasa tidak nyaman dan tidak fokus belajar karena terus-terusan diganggu oleh Arthur, Leon, dan Hesan.

Bahkan kursi Lona didorong oleh kaki Arthur sehingga Lona terdorong ke depan dan perut Lona mengenai ujung meja sehingga Lona harus menahan rasa sakitnya.
                     
Tak lama kemudian, bel istirahat berbunyi. Semua siswa yang ada di kelas pun pergi menuju kantin. Freya mengajak Lona untuk pergi ke kantin bersama, tetapi Lona menolaknya karena dia membawa bekal dari rumah.

Akhirnya Freya memutuskan untuk pergi ke kantin sendirian. Di kelas pun kini hanya tinggal Lona, Arthur, Leon, dan Hesan. Baru saja Lona mengeluarkan bekalnya, Leon sudah mengomentarinya.

"Makan apaan, tuh?" tanya Leon penasaran.

Tetapi Lona tidak menjawab perkataan Leon. Lona memang lebih senang membawa bekal dari rumah, khas masakan ibunya. Dia terlalu malas hanya untuk sekedar berjalan ke kantin dan membeli beberapa makanan, karena cemoohan lain tentang ayahnya pasti akan ia dengar.

"Kebiasaan. Ditanya, tapi nggak dijawab. Thur, dia memang tuli ya?" ejek Leon.

Leon mengangkat satu sudut bibirnya sambil menunjuk Lona seolah Lona adalah hal yang menjijikkan, yang mengundang tawa Arthur dan Hesan.

Lona yang dibicarakan hanya diam saja, sambil dengan tenang membuka kotak bekalnya. Tak dihiraukannya Leon yang masih berada disampingnya. Ketika Lona membuka kotak bekalnya, dengan sigap Leon pun membawanya.

"Wih! nasi goreng sosis, Thur. Enak juga, nih. Kamu mau gak?" tanya Leon sambil mengangkat kotak bekal Lona dan mengarahkannya kearah Arthur dan Hesan yang tepat berada dibelakang Lona.

Lona pun berdiri, berusaha mengambil kotak bekalnya dari tangan Leon, namun gagal. Leon sudah terlebih dahulu berdiri dan mengangkat kotak bekalnya semakin tinggi.

"Kembalikan Leon, aku mau makan." ucap Lona memohon.

"Kembalikan Leon, aku mau makan. Hahaha." ucap Leon menirukan apa yang baru saja dikatakan Lona.

"Aku belum makan dari pagi. Kembalikan padaku." ucap Lona yang masih berusaha meraih kotak bekalnya.

"Kalau begitu ambil sendiri." sebuah tangan tiba-tiba mengambil kotak bekal Lona dari tangan Leon yang merupakan Arthur pelakunya.

Jika Lona masih memiliki setidaknya lima puluh persen kesempatan untuk merebutnya dari tangan Leon, maka kesempatan itu lenyap seketika saat kotak bekalnya berpindah tangan ke Arthur. Jelas saja, Lona hanya hampir setinggi dagu Arthur, karena Arthur lebih tinggi dari Leon.

"Arthur, kembalikan aku mau makan!" ucap Lona menahan amarahnya.

"Ambil sendiri bisa kan? Ayo kesini." Arthur mengangkat kotak bekal Lona semakin tinggi.

Lona masih menahan emosinya, kemudian berjinjit dan berusaha kembali mengambil kotak bekalnya yang masih berada ditangan Arthur.

Namun, seketika itu pula Arthur menjatuhkan kotak bekalnya tepat diatas kepala Lona. Lona memegang kepalanya dan merasakan sakit yang luar biasa dipuncak kepalanya, bersamaan dengan butiran nasi yang jatuh didepan matanya dan bunyi kotak bekalnya yang jatuh menyentuh lantai kelas.

Sedetik kemudian, Arthur mendorong tubuh Lona dengan keras sampai Lona terjatuh. Lona terdiam, jantungnya berdebar kencang menahan amarah. Sedangkan Arthur, dengan santai membersihkan seragamnya sambil berjalan kembali ke bangkunya.

"Lihat. Gara-gara nasi goreng kamu, bajuku jadi kotor." ucap Arthur.

Lona menghampiri Arthur dengan amarah yang terpendam dalam dirinya. Dia berniat melayangkan satu tangannya, namun Hesan terlebih dahulu menahannya.

"Kamu mau apa, Lona? Ngga ada gunanya." ucap Hesan.

"Kalian semua bukan manusia!" teriak Lona maluapkan amarahnya, yang mengundang beberapa pasang mata mengikuti kepergiannya. Seketika itu pula air mata membasahi pelupuk matanya.

Lona pergi meninggalkan kelas untuk membersihkan dirinya dari tumpahan makanan yang dia bawa dari rumah.

Tak lama setelah Lona meninggalkan kelas, bel masuk pun berbunyi. Freya yang baru saja mengetahui jika Lona kembali dibully sampai  terluka akibat ketiga pria itu pun meminta izin untuk pergi ke UKS.

Setelah sampai di UKS Lona menceritakan kepada Freya tentang kejadian tadi. Freya yang mendengarkan Lona bercerita hanya bisa menenangkannya dan memberinya semangat.

Beberapa jam kemudian, bel pulang pun berbunyi. Lona dan Freya bergegas pergi ke kelas untuk mengambil tas dan pulang.

Keesokan harinya, saat Lona tiba di sekolah Lona kembali disambut oleh ejekkan dan hinaan dari teman-temannya. Bahkan, ketika Lona tiba di kelas pun dia disambut oleh ketiga pria yang paling dibencinya, siapa lagi kalau bukan Arthur, Leon, dan Hesan.

"Hey! Apakah kau masih tidak malu sekolah disini? Mengapa kau masih menampakkan diri disini?!" ucap Arthur dengan emosinya.

Lona tidak mendengarkan ucapan yang dilontarkan oleh Arthur, dia hanya diam dibangkunya bersama Freya.

"Ditanya tuh jawab!" ucap Hesan.

"Wah! Ternyata kau tuli ya!" ucap Hesan mengejek Lona yang ditertawakan oleh Arthur dan Leon.

Lona masih tetap diam dan tidak mendengarkan ucapan-ucapan mereka. Bel masuk pun berbunyi. Sama seperti hari kemarin, Lona terus-terusan diganggu oleh Arthur, Leon, dan Hesan selama pelajaran berlangsung.

Waktu yang ditunggu-tunggu oleh semua siswa pun tiba. Bel berbunyi menandakan bahwa sekarang saatnya istirahat. Hampir seluruh siswa keluar dari kelas mereka masing-masing, pergi menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang kosong, karena terkuras oleh pelajaran yang semakin hari terasa semakin sulit.

Lona yang biasanya tidak pernah keluar kelas saat istirahat pun kini terpaksa pergi menuju kantin bersama Freya, karena dia tidak membawa bekal lagi dari rumah. Lona tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali, karena itu hanya akan membuat dirinya lebih terpuruk lagi.

Ketika berada di kantin, Lona hanya memesan jus mangga sedangkan Freya memesan mie ayam. Setelah mengambil pesanannya Lona berjalan bersama Freya mencari tempat duduk yang kosong.

Tetapi, hal buruk menimpa Lona lagi. Lona tersandung kaki yang sengaja menghalangi jalannya. Bersamaan dengan jatuhnya Lona ke lantai, jus mangga yang dipegangnya pun  tumpah mengenai wajah dan seragam Lona, hingga seragam Lona pun menjadi kotor dan basah.

Lona harus menanggung malu lagi karena sekarang penampilannya berantakan. Arthur, Leon, dan Hesan menertawakan Lona yang masih terduduk dilantai. Ternyata ketiga pria itu yang sengaja membuat Lona terjatuh.

"Kenyang gak tuh, tumpah semua? Hahaha." ucap Arthur mengejek Lona yang ditertawakan oleh Leon dan Hesan.

Bahkan, yang membuat Lona lebih geram lagi adalah Hesan merekam kejadian tersebut dan disebarkan ke seluruh siswa. Lalu, mereka pergi meninggalkan Lona dan Freya begitu saja. Setelah ketiga pria itu pergi, Freya segera menolong Lona dan membawanya pergi menjauh dari kantin.

Ketika Lona dan Freya akan pergi ke kelas, seseorang mendorong tubuh Lona dengan sangat keras dan kencang. Lona kehilangan keseimbangannya sehingga Lona tersungkur ke depan sampai kepalanya terbentur batu. Darah segar mengalir dari kepalanya. 

Freya yang terkejut pun segera menghampiri Lona yang memekik kesakitan sambil memegangi kepalanya. Ternyata orang yang mendorong Lona hingga tersungkur adalah Arthur.

Karena mendengar keributan, semua siswa pun menghampiri Lona yang terjatuh kesakitan. Lona yang masih memegangi kepalanya pun meluapkan emosinya.

"Mengapa kau melakukan ini kepadaku Arthur?!" ucap Lona dengan amarah dan rasa sakit yang bercampur menjadi satu.

"Mengapa kalian semua membenciku?!"

"Mengapa kalian selalu mengejek dan menghinaku?!"

"Kenapa?! Apa salahku pada kalian?! Apakah aku terlihat menjijikkan dimata kalian?!"

"Apakah aku tidak pantas sekolah disini? TOLONG JAWAB AKU!" teriak Lona hingga tangisnya pun terdengar sangat rapuh. Air mata membasahi pelupuk matanya.

Melihat situasi yang semakin tegang, seketika itu semua orang menjadi diam tidak ada suara sedikitpun selain suara tangisan Lona yang semakin keras. Lona terlihat sangat rapuh dan kesakitan seolah-olah dirinya membutuhkan pertolongan untuk melenyapkannya dari dunia ini.

"Apakah kalian tidak merasakan betapa sakitnya aku yang selalu diejek dan dihina oleh kalian semua?!"

"Bahkan, aku sama sekali tidak membalaskan dendam ku pada kalian semua bukan? Tetapi mengapa sikap kalian selalu seperti itu padaku?!" ucap Lona masih dengan amarah dan air mata yang turun mengenai pipinya.

"Apakah sekarang kalian sudah puas menindasku?!"

"Kau ingin aku tidak ada disini lagi kan Arthur?"

"Mengapa kau diam saja Arthur?"

Arthur tidak menjawab dan hanya menatap kosong kearah Lona yang masih memegangi kepalanya. Arthur tidak menyangka jika Lona si gadis pendiam bisa serapuh ini.

"Kalau begitu aku akan mengabulkan permintaanmu."

"Maaf, Lona aku tidak sengaja. Aku hanya menganggapnya sebagai lelucon saja. Aku tidak tahu jika kau menganggapnya serius." ucap Arthur yang masih menatap Lona tepat dimatanya.

"Maaf Arthur, mungkin itu lelucon bagimu dan teman-temanmu, tetapi tidak bagiku." ucap Lona yang berhasil membuat Arthur bungkam  sampai tidak dapat berkata-kata lagi.

Sedangkan Leon dan Hesan hanya menundukkan kepalanya dan tidak berani menanggapi percakapan Arthur dan Lona.

"Lebih baik aku mati saja daripada harus mendengarkan ejekkan dan hinaan kalian yang membuatku sakit hati." 

"Maaf jika kehadiranku di sekolah ini membuat kalian merasa tidak nyaman. Dan maaf jika kehadiranku membuat kalian merasa terganggu." ucap Lona dengan suara yang semakin melemah.

Setelah mengucapkan apa yang dirasakannya selama ini, Lona tidak sadarkan diri dan membuat semua orang yang ada disana panik tak terkecuali Arthur, Leon, dan Hesan. Lona pun segera dibawa ke rumah sakit.

Setelah tiba di rumah sakit, Lona langsung diperiksa dan dokter mengatakan bahwa Lona mengalami benturan yang sangat keras di kepalanya, yang mengakibatkan pembuluh darahnya pecah.

Keesokan harinya, Lona dinyatakan meninggal. Ibu dan ayah Lona merasa terpukul mendengar putri kesayangan mereka pergi meninggalkan mereka begitu saja.

Begitu pula dengan Freya. Dia bahkan tidak akan memaafkan orang yang telah membuat sahabatnya seperti ini, terutama Arthur.

Di sekolah, berita meninggalnya Lona menjadi perbincangan hangat. Mereka tidak menyangka jika Lona gadis yang selalu mereka tindas akan pergi secepat ini.

Arthur, Leon, dan Hesan pun yang mengetahui bahwa Lona meninggal, hanya menyesali perbuatan mereka selama ini yang sangat berlebihan terhadap Lona. Bahkan, Arthur, Leon dan Hesan pergi mengunjungi makam Lona dan menangis menyesali perbuatan mereka. Karena mereka belum sempat meminta maaf secara tulus kepada Lona.

Sampai akhirnya Arthur, Leon, dan Hesan dikeluarkan dari sekolah akibat perbuatan mereka yang sudah melewati batas wajar.

Komentar